JEJAK GANG DOLLY YANG BANYAK TAK DIKETAHUI
Apa yang akan
kalian katakan saat mendengar kata “Gang Dolly”
Mungkin sudsh
tidak asing lagi jika mendengar nama tempat tersebut. yaitu suatu tempat
lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara. Namun tak banyak orang mengerti asal
muasal nama “Dolly”. Kali ini saya akan menunjukan sebuah sejarah seperti apa
dan bagaimana gang dolly itu lewat berbagai referensi.
Gang Dolly ini
sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan
Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly
sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis.
Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang
padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber
rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung,
penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks
berasal dari Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, dan Kota-kota
lainnya. Nah, omong-omong soal Dolly ini, tentu tak lepas dari kisah tante
Dolly, perempuan keturunan Noni Belanda yang katanya sebagai perempuan pertama
yang membuat kawasan itu. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih
ada hingga kini namun tidak meneruskan bisnis lendir lagi. Sebagai pencetus
komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan,
Kota Surabaya, ini maka perempuan dengan sebutan tante Dolly itu kemudian
dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal terbentuknya gang
lokalisasi prostitusi tersebut. Dalam beberapa kisah tutur masyarakat Surabaya,
awal pendiriannya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi
pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda.
Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly
tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali. Dalam
perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya
prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang
berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi
tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.
Kawasan Dolly yang pernah disebut sebagai
lokalisasi terbesar di Asia Tenggara dengan 1.449 PSK dan 313 mucikari itu
memang telah berubah wajah. Jika dulu berbagai wisma, karaoke, atau salon
berderet di Jalan Jarak, kini hanya tersisa bekas-bekasnya. Wisma atau salon
berubah menjadi toko komersial seperti mini market, counter handphone dan
pulsa, pangkas rambut, air isi ulang, bengkel motor dan aksesorinya atau warung
kopi. Bisnis prostitusi tampaknya tak bisa hilang begitu saja di bekas
lokalisasi Dolly yang secara resmi telah ditutup oleh Walikota Surabaya Tri
Rismaharini pada 18 Juni 2014. Masih ada yang melakukannya dengan cara
sembunyi-sembunyi, memanfaatkan berbagai hotel yang letaknya jauh dari Dolly
atau kamar-kamar tertentu di beberapa rumah kost di wilayah tersebut. meskipun gang dolly sudah ditutup namun masih banyak tempat-tempat
prostitusi yang kian mengakar salah satunya yang saya ketahui adalah Moro
Seneng di daerah Manukan-Benowo Surabaya. Memang tak bisa dipungkiri
bahwasannya tidak menutup kemungkinan jika gang dolly telah di tutp sudah tidak
ada lagi semacam tempat lokalisasi namun untuk saat ini malah lebih tren lagi
sebutannya adalah “Prostitusi online” yaitu sama semacam gang dolly namun
dengan sistem kinerja online atau lewat sosial media.
PSK bekerja
melalui akun sosial media dengan cara memajang fotonya yang mungkin membuat
mata lelaki bergairah sehingga memesan lewat akun sosial media setelah itu janjian
di suatu tempat ada pula yang sampai menyewa hotel istilahnya dari hotel ke
hotel. Tidak sedikit nama artis terseret ke ranah hukum atau bahkan tercoret
namanya karena banyak oknum-oknum yang menjebak atau bahkan artis tersebut yang
mencari uang tambahan dikarenakan mengikuti gaya sehingga pendapatan sendiri
dari artis kurang maka dari itu alternatif lain menggunakan jasa prostitusi online.
Empat
tahun ditutup, nyatanya bisnis prostitusi di Gang Dolly dan sekitarnya masih
hidup. Namun kini dilakukan sembunyi-sembunyi. Bukti resminya adalah
penggerebekan yang dilakukan anggota Sat Reskrim Polrestabes Surabaya di salah
satu wisma terselubung di kawasan tersebut, akhir Januari 2018 lalu. Polisi
menangkap dua muncikari dan tiga PSK yang tengah melayani pria hidung belang.
Layanan seks terselubung ini berlangsung di
beberapa wisma, atau bahkan di rumah warga. Para calo atau muncikari yang
berperan aktif mencari pelanggan di mulut-mulut gang, tak peduli siang hari.
“Nggak cari teman tidur to Mas?” sapa Adam–nama samaran–, kepada Surabayainside.com saat
jalan-jalan di kawasan Kupang Gunung Timur, Surabaya, beberapa hari lalu.
Asal tahu saja, PSK di Dolly dan Jarak memang
beda kelas. Sejak dulu PSK di Dolly terkenal cantik-cantik dan berusia muda. Di
Jarak sebaliknya, cewek yang ditawarkan rata-rata berumur 25 tahun ke atas.
Yang cantik memang ada, tapi jarang. Biasanya mereka adalah ‘pensiunan’ dari
Dolly yang kemudian pindah ke Jarak.
Karena itu tarif wanita penghibur di Dolly
lebih mahal, berkisar Rp 250 ribu sampai Rp 500 ribu sekali kencan. Sementara
di Jarak, pria hidung belang cukup merogoh kocek Rp 200 ribu untuk
layanan short time. Adam melanjutkan,
angka Rp 300 ribu yang dia tawarkan tersebut sudah termasuk sewa kamar. “Ya di
sekitar sini (kamarnya). Kalau mau dibawa ke hotel, ya sampeyan sendiri yang
nanggung biayanya,” katanya lagi.
Menurut
keterangan muncikari yang ditangkap polisi, tarif Rp 300 ribu itu dibagi untuk
PSK Rp 200 ribu, muncikari Rp 50 ribu, dan sisanya untuk sewa kamar. Wali Kota
Surabaya Tri Rismaharini mengakui, melenyapkan praktik prostitusi di kawasan
Dolly tidak bisa dilakukan sekejap saja namun dengan proses yang sabar.
Berikut
ini adalah saduran kutipan berita dari sumber Kompas.com saya mengambil pada
hari jum’at tanggal 19 April 2018 pukul 13:00 yaitu yang membahas tentang
Walikota Surabaya Bu Tri Rismaharini angkat suara soal tuntutan gugatan warga
Gang Dolly Rp. 270 Milyar
JAKARTA, KOMPAS.com — Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini
angkat suara soal gugatan yang mengatasnamakan warga Kampung Dolly. Mereka
menggugat Pemkot Surabaya Rp 270 miliar ke Pengadilan Negeri Surabaya melalui
mekanisme class action. Alasan pengajuan gugatan karena sejak lokalikasi Dolly
ditutup pada 2015, warga kehilangan pekerjaan. Risma mengatakan, ia belum tahu
persis soal gugatan yang diajukan. "Jangan mengusik ketenangan Dolly yang
sudah tertata dengan tatanan baru. Jangan hanya segelintir orang tidak suka
merusak Dolly yang sudah tenang," kata Risma, seperti dikutip
dari Tribunnews.com, saat ditemui usai membuka seleksi Beasiswa ke
Liverpool di Stadion Tambaksari, Jumat (31/8/2018). Menurut Risma, mereka yang
mengajukan gugatan adalah sebagian kecil warga yang tidak suka warga Dolly
berkembang menjadi warga normal. "Lebih eman generasi mendatang. Mereka
perlu dukungan dan lingkungan yang normal. Ayo mana tunjukkan warga yang class
action itu ber-KTP Dolly tidak," kata Risma. Risma mengatakan,
kebijakan penutupan Dolly sudah tepat dan dilakukan bersamaan dengan penutupan
lokalisasi yang lain. Apalagi, penutupan itu diikuti dengan solusi dan
usaha warga Dolly kini semakin berkembang. Usaha itu di antaranya sablon,
batik, hingga sandal dan menjadi ganti sumber perekonomian yang lebih beradab
selain prostitusi. Demikian pula pada aspek kenyamanan hidup anak-anak yang
bermukim di kawasan eks lokalisasi Dolly. Menurut Risma, anak-anak di Dolly
berhak memiliki masa depan yang baik. " Warga Dolly punya hak hidup normal
seperti warga lain. Saya ingin menyelamatkan anak-anak di Dolly. Karena, anak-anak
itu juga punya kesempatan hidup normal," kata Risma. Sebelumnya, pada
Kamis (30/8/2018), puluhan warga Dolly yang menamakan diri Karang Taruna Putat
Jaya (FORKAJI) melakukan aksi di depan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis
(30/8/2018). Mereka menuntut PN menolak gugatan class action yang diajukan
sebagian warga Dolly. Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul
"Wali Kota Surabaya Digugat Warga Dolly Rp 270 Miliar, Ini Jawaban Menohok
Bu Risma".
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Digugat Warga Dolly Rp 270 Miliar. https://regional.kompas.com/read/2018/09/01/11054601/digugat-warga-dolly-rp-270-miliar-ini-respons-tri-rismaharini.
itulah redaksi mengenai respon para pekerja seks komersial
serta mucikari atas tidak disetujuinnya gang dolly di tutup. Namun untuk saat
ini sudah terlaksana penutupan gang dolly bakhan dijadikan sebagai tempat
rekreasi atau tempat yang instagramable yang menarik untuk dikunjugi. Berikut
adalah redaksi yang saya ambil dari berbagai sumber dari okezone.com
Mural
bisa jadi wisata lho via http://a.okezone.com
Dolly, yang
menyala-nyala di puncak kota,
yang sembunyi
di sudut jalang jiwa pria Surabaya.
Dulu, di
temaram jambon gang sempit itu,
aku mursal
masuk, keluar, dan utuh sebagai lelaki.
(Si Pelanggan –
Silampukau)
Ya,
itulah sepenggal lirik lagu berjudul Si Pelanggan yang dibawakan oleh band
indie Surabaya beraliran folk, Silampukau. Mereka sanggup ‘memugar’ sekaligus
‘mengabadikan’ nama Dolly dalam wujud lagu. Katakanlah, lagu ini sengaja dibuat
untuk mengenang Dolly.
Tak
hanya bagi warga kota Surabaya, pun tak hanya bagi petualang cinta satu malam
saja, nama Dolly nampaknya sudah tak asing lagi bagi banyak orang di negeri
ini. Lokalisasi legendaris yang terletak di puncak kota Surabaya, kini sudah
punah digerus jaman. Kini ia telah jauh berubah, secepat ars perubahan itu
sendiri.
Sekilas tentang Dolly, saat masih menjadi lokalisasi. Ada yang pernah ke sini?
Dulu di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur “dipajang” di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase. Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara, lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Gang Dolly sudah ada sejak jaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der Mart. Karena berada di tengah kota, kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rejeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari berbagai kota di Indonesia.
Sekilas tentang Dolly, saat masih menjadi lokalisasi. Ada yang pernah ke sini?
Dulu di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur “dipajang” di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase. Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara, lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Gang Dolly sudah ada sejak jaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der Mart. Karena berada di tengah kota, kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rejeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari berbagai kota di Indonesia.
Dua
tahun silam, tepat Juni 2014, lokalisasi ini berhasil ditutup oleh pemerintah
kota Surabaya. Bukan hal mudah ketika Dolly sudah sebegitu tenarnya..
Sebelum deklarasi penutupan digelar, penolakan keras dilakukan oleh para pekerja lokalisasi (PSK, mucikari, makelar tamu, penjual minuman, dan sebagainya). Opini publik yang terbentuk saat itu adalah penutupan lokalisasi hanya akan menyengsarakan para pekerjanya yang sudah terbiasa mendapat penghasilan belasan juta sebulan. Kini mereka harus kehilangan pekerjaan. Kasihan? Iya.
Tapi nyatanya, beberapa bulan setelah penutupan itu. Ada kisah sukses mantan mucikari yang memulai hidup baru dengan berjualan telur asin dan telur ayam negeri. Tak ada penutupan lokalisasi yang awalnya tidak diwarnai protes memang. Tapi rencana itu jalan terus, perlahan tapi pasti, wajah eks lokalisasi berubah menjadi sentra-sentra kerajinan dan belanja.
Sebelum deklarasi penutupan digelar, penolakan keras dilakukan oleh para pekerja lokalisasi (PSK, mucikari, makelar tamu, penjual minuman, dan sebagainya). Opini publik yang terbentuk saat itu adalah penutupan lokalisasi hanya akan menyengsarakan para pekerjanya yang sudah terbiasa mendapat penghasilan belasan juta sebulan. Kini mereka harus kehilangan pekerjaan. Kasihan? Iya.
Tapi nyatanya, beberapa bulan setelah penutupan itu. Ada kisah sukses mantan mucikari yang memulai hidup baru dengan berjualan telur asin dan telur ayam negeri. Tak ada penutupan lokalisasi yang awalnya tidak diwarnai protes memang. Tapi rencana itu jalan terus, perlahan tapi pasti, wajah eks lokalisasi berubah menjadi sentra-sentra kerajinan dan belanja.
Bu
Risma sempat berujar “Dolly bukan ditutup, tapi diubah
wajahnya”. Para pekerja lokalisasi kini dialihkan profesinya.
Sebagian ada yang jadi pedagang makanan olahan yang menuai omset yang cukup fantastis. Ada pula yang bekerja di sektor pekerjaan lain yang berbasis industri rumah tangga, semisal menekuni bisnis penjualan telur asin, bawang goreng, dan lain-lain.
Lalu bangunannya untuk apa? Sabaaar. Wisma Barbara di lokalisasi Dolly misalnya, wisma itu sangat kental nuansa prostitusinya. Bangunan enam lantai itu merupakan salah satu wisma paling terkenal di wilayah Dolly. Sekarang, kondisinya sudah jauh berbeda. Sejak dibeli Pemkot Surabaya, Wisma Barbara kini difungsikan sebagai markas usaha kecil menengah (UKM) yang memproduksi sepatu. Selain itu, terdapat broadband learning center (BLC) sebagai sarana pelatihan komputer bagi warga sekitar. Tempat tersebut juga dijadikan lokasi display hasil kerajinan batik.
Sebagian ada yang jadi pedagang makanan olahan yang menuai omset yang cukup fantastis. Ada pula yang bekerja di sektor pekerjaan lain yang berbasis industri rumah tangga, semisal menekuni bisnis penjualan telur asin, bawang goreng, dan lain-lain.
Lalu bangunannya untuk apa? Sabaaar. Wisma Barbara di lokalisasi Dolly misalnya, wisma itu sangat kental nuansa prostitusinya. Bangunan enam lantai itu merupakan salah satu wisma paling terkenal di wilayah Dolly. Sekarang, kondisinya sudah jauh berbeda. Sejak dibeli Pemkot Surabaya, Wisma Barbara kini difungsikan sebagai markas usaha kecil menengah (UKM) yang memproduksi sepatu. Selain itu, terdapat broadband learning center (BLC) sebagai sarana pelatihan komputer bagi warga sekitar. Tempat tersebut juga dijadikan lokasi display hasil kerajinan batik.
Hssst…
tak hanya itu, Februari lalu, Risma juga sudah meresmikan gang Dolly sebagai
wisata mural. Selamat!
Masih di wisma Barbara. Pada bagian luarnya, tembok samping bangunan tersebut dimanfaatkan untuk mural. Deretan gambar interaktif tersaji apik dengan sentuhan aneka ragam warna. Saat meresmikan kampung mural, Risma diberi kesempatan menuliskan sebuah kalimat. Walikota yang terpilih memimpin Surabaya selama dua periode ini akhirnya menuliskan “Kampung Wisata Penuh Cerita.”
Masih di wisma Barbara. Pada bagian luarnya, tembok samping bangunan tersebut dimanfaatkan untuk mural. Deretan gambar interaktif tersaji apik dengan sentuhan aneka ragam warna. Saat meresmikan kampung mural, Risma diberi kesempatan menuliskan sebuah kalimat. Walikota yang terpilih memimpin Surabaya selama dua periode ini akhirnya menuliskan “Kampung Wisata Penuh Cerita.”
Walau
sudah meresmikan Kampung Wisata Mural, Risma berpesan agar penggambaran mural
harus tetap memperhatikan norma dan kesopanan
“Saya bukan
tidak suka sama mural, tapi mural itu harus pada tempatnya. Agar mural bisa
menyampaikan pesan positif, jangan sampai ada kata-kata kotor di dalamnya.
Sebab, itu akan dilihat oleh anak-anak yang tinggal di sekitar sini,” ujarnya
seperti dilansir dari Republika
Mural
di kawasan Dolly itu pun ada beragam. Mulai dari lorong waktu yang
menggambarkan masa depan, ada harapan yang dilukiskan dengan sayap, dan
tokoh-tokoh animasi khas kota Pahlawan seperti Gob and Friends untuk
memperkenalkan industri kreatif Surabaya.
Ke
depannya, Risma ingin agar seni mural dapat dikembangkan ke arah pelatihan
lukis kanvas dan lukis via komputer. Memang sih, hasil seni gambar yang
menggunakan teknologi komputer dapat diunggah ke media sosial dan dinikmati
secara global.
Berubahnya
wajah Dolly kini juga bukan hanya peran Pemkot saja, melainkan campur tangan
komunitas anak muda juga. Antara lain Gerakan Melukis Harapan (GMH) dam
Surabaya Creative Network (SCN).
GMH sendiri merupakan organisasi yang beranggotakan 100-an relawan dari berbagai kampus di Surabaya yang peduli terhadap perubahan kawasan eks lokalisasi. Gerakan yang mereka lakukan itu dimulai jauh sebelum penutupan lokalisasi Dolly. Berkolaborasi dengan SCN, mereka berusaha menghidupkan kembali Dolly menjadi kawasan wisata baru, yang kemudian dinamai dengan Kampung Seni Mural. Siapa sangka, ide tersebut ternyata sejalan dengan ide Pemkot Surabaya.
Tak hanya wisata mural saja, rencananya kawasan Dolly akan dijadikan kampung wisata yang terdiri dari beragam kampung tematik yang ditempatkan di gang-gang berbeda. Setelah Kampung Seni Mural diresmikan, kini mereka sedang mempersiapkan Kampung Hijau Lestari, Kampung Seni, dan Kampung Oleh-Oleh. Oya, setelah meresmikan wisata mural, Risma juga sudah meluncurkan klub sepak bola U12 dan U15 di Dolly lho…
GMH sendiri merupakan organisasi yang beranggotakan 100-an relawan dari berbagai kampus di Surabaya yang peduli terhadap perubahan kawasan eks lokalisasi. Gerakan yang mereka lakukan itu dimulai jauh sebelum penutupan lokalisasi Dolly. Berkolaborasi dengan SCN, mereka berusaha menghidupkan kembali Dolly menjadi kawasan wisata baru, yang kemudian dinamai dengan Kampung Seni Mural. Siapa sangka, ide tersebut ternyata sejalan dengan ide Pemkot Surabaya.
Tak hanya wisata mural saja, rencananya kawasan Dolly akan dijadikan kampung wisata yang terdiri dari beragam kampung tematik yang ditempatkan di gang-gang berbeda. Setelah Kampung Seni Mural diresmikan, kini mereka sedang mempersiapkan Kampung Hijau Lestari, Kampung Seni, dan Kampung Oleh-Oleh. Oya, setelah meresmikan wisata mural, Risma juga sudah meluncurkan klub sepak bola U12 dan U15 di Dolly lho…
Satu
lagi, terkait Wisata Mural, setelah Dolly, Risma juga memberikan ruang lainnya
di sudut-sudut Surabaya
Wanita
peraih gelar walikota terbaik dunia tersebut memang ingin menjadikan Kota
Pahlawan mempunyai wisata mural. Makanya, dia sengaja memberikan ruang atau
wadah kepada komunitas mural se-Surabaya untuk menyalurkan hobinya. Beberapa
hari lalu (27/6) di Jembatan Gubeng misalnya, masing-masing komunitas mural
diberikan ruang tembok untuk membuat mural dengan tema Surabaya.
Pada Sabtu, 13 April 2019 saya melakukan study lapangan alias Outdoor bisa disebut juga dengan Kuliah Lapangan “ Dakwah Kontemporer dan Enterpreneurship” yang dimauli pukul 08:00 bertempat di masjid At-Taubah Kupang Gunung Timur Gg. 7-B/141 Surabaya. Bangunan yang dulunya mushola yang bernama Al-Huda 1987 dan hingga saat ini berubah menjadi Masjid At-Taubah ini adalah tempat yang sangat bersejarah terutama di wilayah lokalisasi Gang Dolly, mengapa demikian, karena mushola ini adalah saksi bisu perjuangan penutupan lokalisasi hingga saat ini. Khotbah yang diilaksanakan pertama kali di sini pada 19 februari 1989. Ijazah yang digunakan ustadz petruk adalah setiap selasa malam rabu membaca sholawat 4.444 dengan menggunakan isi buah asem alias klungsu menurut ta’mir masjid At-Taubah yang akrab dipanggil dengan sebutan “ustadz petruk” beliau juga menjadi salah satu saksi perjuangan penutupan lokalisasi Gang Dolly dengan keyakinan ikhtiar tawakal beliau selalu percaya bahwa dengan ikhlas pada Allah dan yakin bahwa Allah akan membukakan solusinya, kemudian Prof. Ali menambahkan bahwa otak yang menjadi penentu kita, never give up. 24 tahun ustadz petruk berdakwah di Gang Dolly. Beliau juga keturunan dari Ali Barajah Yaman. Kuliah lapangan ini langsung dibimbing oleh Guru Besar Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Prof. Moh. Ali Aziz, dengan assisten dosen Bu Ati’dan Bu Baiti serta para narasumber yang handal sangat menginspiratif dan turut serta meluluh lantahkan lokalisasi di Gang Dolly tersebut.
Narasumber yang pertama yaitu dari H. Sunarto Solahudin selaku Owner
PT. Berkah Aneka Laut memiliki 50 buah kapal serta membangun pelabuhan baru di
Probolinggo, beliau juga membantu dari segi finansial. Beliau adalah bendahara
Masjid Nurul Fattah wilayah surabaya barat yaitu bertempat di Jl. Demak 319 Surabaya.
Kata mutiara yang saat ini masih terngiang yaitu “kalau ngurus masjid jangan
makan di masjid” Beliau adalah seorang yang dermawan serta gigih dalam
perjuangan tidak kenal menyerah selalu terus berusaha menuju suatu kebahagiaan.
Perjuangannya sangat memotivasi para audiens yang khusyuk menyimak dimulai dari
beliau tidur dari satu pasar ke pasar lain demi meningkatkan ekonomi keluarga,
beliau terlahir dari keluarga yang sederhana tidak bermuluk-muluk. Orang tua
beliau merantau ke kota surabaya Ibu beliau berjualan Es Gronjong di pasar
besar serta bapaknya juga membantu namun beda tempat. pada saat 5 tahun
berjualan ibu dari Pak solahudin meninggal. Pak sunarto menceritakan denga
tetesan air mata yang mengiri teringat pada saat perjuangan dimana masih
segalanya serba belum ada adiknya yang ingin sekolah padahal saat beliau juga
mengenyam pada bangku sekolah dasar, namun tidak patah semangatnya beliau terus
berusaha bagaimana caranya agar adiknya tidak seperti beliau. Rumah beliau di
Daerah Gresik hingga pada suatu saat beliau memutuskan untuk merantau ke kota
surabaya, mencri pekerjaan segalanya yang halal mulai dari pelayan restoran
tidur di restoran di pasar dan masih banyak lagi tempay tinggah beliau. Allah
memang maha pemurah dan maha pemilik segaanya hingga pada suatu hari beliau
mencari pekerjaan lalu bertemu dengan rekan orang tuanya diberilah makan dan
minum Pak Sunarto sangat bersyukur kunci keberhasialn utama ada 4 unsur penting
yaitu :
1.
Allah
2.
Yakin
dan Jujur
3.
Patuh
Kepada Ke-dua Orang Tua, Dosen, Guru-guru
4.
Ibadah
dan dakwah
Kalimat penutup
atau bisa disebut wejangan dari beliau bapak H. Sunarto Solahudin adalah
kebimbangan diobati dengan keyakinan, bekal, pelajaran yang diasah, dan pastinya
dengan sebuah keyakinan terbesar.
Selanjutnya
adalah materi dari bapak Dr. H. A. Sunarto AS, MEI selaku Doktor Prostitusi /
IDEAL MUI-Jatim, menurut beliau pengertian dakwah adalah merubah kemungkaran
menjadi kebaikan ada proses dan tahapan dakwah yaitu harus merubah daerah
menjadi lebih baik dakwah dilakukan secara individu maka dari itu metode dakwah
yang dilakukan adalah dilakukan secara bersama-sama atau dalam ikatan suatu
lembaga. Lembaga dakwah yang dinaungi oleh bapak sunarto ini adalah FORKEMAS yaitu
forum komunikasi elemen masyarakat. Kerjanya atau alur berdakwahnya dengan cara
membentuk Networking yaitu berdakwah harus networking menjalin hubungan
kerjasama anatar sesama pendakwah atau seseorang yang ikut andil dalam
menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bapak sunarto sendiri sudah berdakwah
secara individu selama 10 tahun. Beliau meluluh lantahkan atau menguasai
istilahnya mbabat alas gang dolly menggukan metode Introgatif, yakni tidak
hanya mental dan fisik namun dengan metode persuasif yaitu mengajak seperti
dibina dalam kelembagaan memupuk kreativitas serta disibukkan dengan kegiatan
yang berpositif, dibimbing, dilatih dan lain-lain. Disamping itu diberikan juga
metode solutif yaitu memberikan solusi dalam setiap problematika terjadi yang
dialami oleh pekerja seks komersial ataupun germo (mucikari). Menurutnya
senjata paling jitu atau acuan yang digunakan dalam langkah dakwah bapak sunarto
yaitu dakwah merangkul tidak mendengkul.
Selain di
daerah Dolly ada juga lokalisasi yang sama yakni di daerah Jarak, Bangunsari,
Tambak Asri, Kremil, Benowo, Moroseneng dan lain-lain. Namun total keseluruhan
di dalam daerah Jawa Timur sendiri terdapat 47 tempat lokalisasi. Menurut bapak
sunarto 1 wanita PSK (Pekerja Seks Komersial) bisa melayani 15 lelaki hidung
belang setiap malamnya dengan budget 200 ribu perjam jika di akumulasikan 15 x
200.000 = 3.000.000 setiap malamnya, menggiurkan bukan? maka dari itu pada saat bapak sunarto beserta
lembaga FORKEMAS memberantas Gang Dolly disitu terdapat wisma 8 lantai, mulanya
banyak yang tidak terima, mengamuk, serta menolak untuk diajak meninggalkan
pekerjaan tersebut.namun dengan niat dan tekad, ikhtiar serta tawakal kepada
allah dan akhirnya Gang Dolly mampu diberantas oleh Bapak Dr. H A. Sunarto AS,
MEI yang diberikan julukan Doktor Prostitusi
Pemateri
selanjutnya adalah dari Bapak Khoiron. K.H. Khoiron Syuaib selaku Kiai
Prostitusi beliau juga merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam meluluh
lantahkan prostitusi gang dolly. Bicara dakwah di lokalisasi ada 4 faktor
peranan penting yaitu
1.
Pekerja
Seks Komersial (WTS)
2.
Mucikari
3.
RT
RW (Tokoh Masyarakat) / Preman
4.
Orang
baik (masyarakat yang ada di daerah tersebut)
Menurut beliau
meskipun sudah di berantas untuk wilayah gang dolly sendiri, prostitusi tetap
berjalan beriringan tidak bisa hilang karena sudah mengakar solusinya adalah
lebih baik membentengi diri serta meningkatkan kuwalitas iman prostitusi sudah
ada sejak zaman dahulu dan akan berakhir sampai akhir zaman. Namun setidaknya
ada usaha untuk memberantas dan mengubah Gang Dolly sehingga tidak dijadikan
sarang oleh lelaki hidung belang.
Sama seperti
bapak sunarto, beliau juga berdakwah dengan sistem networking yaitu berdakwah
bersama-sama beliau juga tergabung dalam IDEAL (Ikatan Dai Area Lokalisasi)
Pemateri
selanjutnya adalah H. Gatot Subiantoro beliau adalah mantan preman di area
lokalisasi, yang terkenal galaknya seramnya bakhan siapapun menakutinya. Namun
saat ini beliau telah terbuka pintu hidayahnya alhamdulillah ikut andil dalam pembasmian
gang dolly. Bagaimana bisa seorang preman yang terkenal dari segala penjuru. Lantas
bagaimana bisa pak gatot bisa berunah seperti itu? Menurut beliau semuanya yang
terjadi kehendak allah bahkan yang membuat saya terkagum-kagum yaitu beliau menuturkan
salah satu keajaiban yang menyebabkan beliau mampu berhijrah adalah berkatan
atau bisa disebut pemberian makanan setelah kita mengikuti bancaan atau tahlilan
yang di berikan oleh bapak khoiron pada waktu itu pak gatot yang sedang tidak
sadarkan diri alias mabuk yang bermarkas di depan rumah bapak khoiron di
berikannya nasi kotak atau berkat itu kepada pak gatot karena kuasanya allah
sampai berpengaruh menuntun pak gatot ke jalan yang benar yakni ahdinul islam.
Kesan dan Pesan
saya mengikuti kuliah lapangan yang diadakan oleh Guru besar Fakultas Dakwah
Prof. Moh. Ali Aziz MA.g adalah disitu saya mendapatkan banyak pelajaran kehidupan,
pelajaran tentang keteguhan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, bahwa dakwah
itu secara halus perlahan tidak dengan paksaan seperti yang dicontohkan oleh
baginda rasulullah SAW. Semoga uraian laporan guna memenuhi tugas UAS tersebut
dapat bermanfaat serta terdapat pelajaran positif yang dapat kita teladani. Serta
hal-hal yang negatif dapat kita jadikan cerminan kehidupan untuk diri sendiri
semoga selalu menjaga dan meningkatkan keimanan ketaqwaan kepada Allah SWT
sekian dari saya dan terimakasih atas berbagai sumber yang sama ambil dari
berbagai saduran dengan cara daring namun tetap saya kembangkan. Semoga bermanfaat
saya tunggu kritik dan sarannya mari kita sama belajar untuk menjadi Khalifah
Fil Ard


Komentar
Posting Komentar